Tekanan kerja yang berat, baik dari
Pimpinan, kolega di bagian/depar-temen
lain maupun pihak eksternal seringkali
membuat seorang individu menjadi
overload. Akibatnya emosi mudah tak
terkendali sehingga beresiko mengganggu
iklim kerja. Belum lagi kesehatan fisik
menjadi menurun. Akhirnya,
produktivitas kerja menjadi rendah.
Riset menunjukkan bahwa Emotional Intelligence mempunyai peran lebih dari 85% dalam
menentukan keberhasilan seorang yang berprestasi hebat. Hal ini menjelaskan mengapa orang
dengan IQ tinggi hanya 20% yang kinerjanya melampaui orang dengan IQ rata-rata. Sebaliknya,
orang dengan IQ rata-rata 70% berkinerja lebih baik dari yang IQ nya tinggi (Emotional Intelligence
2.0, Travis Bradberry & Jean Greaves, 2009).
Orang-orang yang memiliki Emotional Intelligence tinggi mampu mengendalikan suasana hati dan
emosi dirinya maupun orang lain, mampu memulihkan diri dari kegagalan, memotivasi diri dan
membangun rasa percaya diri. Selain itu ia juga menjadi semakin mampu membangun hubungan
yang efektif dan positif dalam mengatasi konflik. Dalam kondisi ini, ia lalu menjadi mampu
mengelola diri sehingga mampu mengatur prioritas dan waktu secara efektif dan efisien.
outcome
metode
Training menggunakan sumber ilmu komunikasi konvensional yang dikolaborasikan dengan metode NLP, Hypnosis/Hypnotherapy dan Emotional Intelligence; disajikan dengan format edukreasi yang melibatkan panca indera, interaktif, menarik dan menyenangkan.
Materi bersifat sangat praktis dan aplikatif, berefek langsung pada perubahan pemahaman, kesadaran, sikap dan perilaku. Materi disajikan dengan berbagai metode belajar seperti course, permainan, simulasi, diskusi kelompok, sharing pengalaman, dan sebagainya.
