Seorang Bapak pemilik usaha suatu restoran bercerita
kepada saya, ketika ia pertama kali bekerja dan menerima jabatan manajer. Saya
yang masih muda tentu merasa kagum, tapi Bapak tersebut menyanggah saya. Ia
menebak pikiran saya yaitu posisi manajer sebagai posisi yang bergengsi karena
memiliki banyak bawahan dan harus mengelola mereka semua beserta tugas-tugas
lainnya. Ternyata posisi manajer yang Bapak itu terima bukanlah seperti itu, karena
ia memang mengurus suatu divisi, namun ia tidak memiliki staf sehingga harus
langsung terjun ke lapangan.
Di era ini, posisi manajer bukan lagi menjadi
sebuah jabatan yang unik. Hampir semua orang di dalam perusahaan memiliki peran
dan tanggung jawab sebagai seorang manajer. Hal ini dikarenakan semua orang
dalam suatu posisi harus memiliki keterampilan khusus yang dikuasai. Selain itu
strategi kepemimpinan dan kemampuan mengelola suatu tugas lebih merata ke semua
orang, bukan tersentral ke satu orang saja. Perusahaan telah menyadari bahwa system
dalam perusahaan tidak berada di dalam eksekutif-eksekutif senior, melainkan
pada pekerja-pekerja garis depan.
Manajer saat ini harus berada langsung di dalam
dinamika perusahaan. Hal ini bukan berarti dalam ‘situasi’ tertentu yang besar,
melainkan justru dalam pengalaman sehari-hari. Manajer saat ini harus mengelola
suatu kompleksitas, bukan mengelola atas suatu kompleksitas. Untuk memberi
gambaran, ada suatu analogi dari Pirsig; “Zen dan Seni Merawat Sepeda Motor”.
Seorang manajer harus mengelola suatu situasi seakan
mereka adalah bagian dari situasi tersebut. Mindset lama seorang manajer dianalogikan
seperti seorang pengendara mobil. Seorang sopir yang berada di dalam mobil
melihat lingkungan di luar seperti melihat televisi melalui kaca mobilnya. Dengan
demikian ia bukan menjadi bagian dari lingkungan di sekitarnya. Sopir memang
tetap mencapai tujuan, namun ia seperti melihat perjalanannya seperti menonton
film.
Di sisi lain, mindset baru seorang manajer
bagaikan seorang pengendara sepeda motor. Si pengendara tidak terbatasi oleh suatu
ruangan. Ia bisa melihat lingkungan sekitarnya secara langsung, merasakan hembusan
angin, mencium aroma alam sekitar, dan lain-lain. Manajer era saat ini juga harus
ikut merasakan lingkungan dan situasi yang dihadapi. Dengan demikian, ia
semakin paham akan bagaimana pasar berjalan, bagaimana karyawannya bekerja, dan
apa yang menjadi harapan para stakeholders.
Analogi pengendara motor adalah gambaran
bagaimana manajer saat ini bukanlah seorang yang berada di belakang layar. Ia
harus mengelola suatu situasi secara cermat secara riil. Seorang manajer harus bekerja
di dalam realitas yang berubah-ubah dan terkadang berbeda dengan prosedur yang
telah dipelajari dan dilakukan selama ini.
Seorang manajer saat ini memiliki fungsi yang
jelas. Ia membuat suatu realitas, pemaknaan baru terhadap konteks di mana mereka
berada. Pengetahuan dan pemaknaan baru terhadap suatu situasi hanya dapat diraih
melalui perspektif baru. Oleh karena itu, bekerja secara riil akan semakin
memperkaya perspektif manajer. Dengan demikian, manajemen adalah suatu pola pikir
yang harus dipahami sebagai gerakan berkelanjutan tanpa terbatas ruang.
