2a
Mindset Manajer di Era 5.0

Seorang Bapak pemilik usaha suatu restoran bercerita kepada saya, ketika ia pertama kali bekerja dan menerima jabatan manajer. Saya yang masih muda tentu merasa kagum, tapi Bapak tersebut menyanggah saya. Ia menebak pikiran saya yaitu posisi manajer sebagai posisi yang bergengsi karena memiliki banyak bawahan dan harus mengelola mereka semua beserta tugas-tugas lainnya. Ternyata posisi manajer yang Bapak itu terima bukanlah seperti itu, karena ia memang mengurus suatu divisi, namun ia tidak memiliki staf sehingga harus langsung terjun ke lapangan.

 

Di era ini, posisi manajer bukan lagi menjadi sebuah jabatan yang unik. Hampir semua orang di dalam perusahaan memiliki peran dan tanggung jawab sebagai seorang manajer. Hal ini dikarenakan semua orang dalam suatu posisi harus memiliki keterampilan khusus yang dikuasai. Selain itu strategi kepemimpinan dan kemampuan mengelola suatu tugas lebih merata ke semua orang, bukan tersentral ke satu orang saja. Perusahaan telah menyadari bahwa system dalam perusahaan tidak berada di dalam eksekutif-eksekutif senior, melainkan pada pekerja-pekerja garis depan.

 

Manajer saat ini harus berada langsung di dalam dinamika perusahaan. Hal ini bukan berarti dalam ‘situasi’ tertentu yang besar, melainkan justru dalam pengalaman sehari-hari. Manajer saat ini harus mengelola suatu kompleksitas, bukan mengelola atas suatu kompleksitas. Untuk memberi gambaran, ada suatu analogi dari Pirsig; “Zen dan Seni Merawat Sepeda Motor”.

 

Seorang manajer harus mengelola suatu situasi seakan mereka adalah bagian dari situasi tersebut. Mindset lama seorang manajer dianalogikan seperti seorang pengendara mobil. Seorang sopir yang berada di dalam mobil melihat lingkungan di luar seperti melihat televisi melalui kaca mobilnya. Dengan demikian ia bukan menjadi bagian dari lingkungan di sekitarnya. Sopir memang tetap mencapai tujuan, namun ia seperti melihat perjalanannya seperti menonton film.

 

Di sisi lain, mindset baru seorang manajer bagaikan seorang pengendara sepeda motor. Si pengendara tidak terbatasi oleh suatu ruangan. Ia bisa melihat lingkungan sekitarnya secara langsung, merasakan hembusan angin, mencium aroma alam sekitar, dan lain-lain. Manajer era saat ini juga harus ikut merasakan lingkungan dan situasi yang dihadapi. Dengan demikian, ia semakin paham akan bagaimana pasar berjalan, bagaimana karyawannya bekerja, dan apa yang menjadi harapan para stakeholders.

 

Analogi pengendara motor adalah gambaran bagaimana manajer saat ini bukanlah seorang yang berada di belakang layar. Ia harus mengelola suatu situasi secara cermat secara riil. Seorang manajer harus bekerja di dalam realitas yang berubah-ubah dan terkadang berbeda dengan prosedur yang telah dipelajari dan dilakukan selama ini.

 

Seorang manajer saat ini memiliki fungsi yang jelas. Ia membuat suatu realitas, pemaknaan baru terhadap konteks di mana mereka berada. Pengetahuan dan pemaknaan baru terhadap suatu situasi hanya dapat diraih melalui perspektif baru. Oleh karena itu, bekerja secara riil akan semakin memperkaya perspektif manajer. Dengan demikian, manajemen adalah suatu pola pikir yang harus dipahami sebagai gerakan berkelanjutan tanpa terbatas ruang.