Pernahkah Anda merasa khawatir bahwa tingkat kemampuan
karyawan Anda dapat mempengaruhi kinerja perusahaan? Anda tidak sendiri, sebab
dari suatu penelitian, tingkat kesenjangan kemampuan karyawan-karyawannya
merupakah kekhawatiran dari 79% CEO di seluruh dunia. Bahkan, 60% karyawan
merasakan kekhawatiran bahwa kemampuannya saat ini akan berkurang dalam kurun
waktu tiga hingga lima tahun ke depan.
Merekrut orang baru bukanlah solusi untuk mengatasi masalah
kemampuan kerja. Pelaku bisnis berpengalaman sadar bahwa merekrut orang baru
menghabiskan biaya 6 kali lebih besar dibanding meningkatkan kemampuan karyawan
yang sudah ada. Oleh karena itu, meningkatkan kemampuan karyawan adalah kunci
untuk mengatasi masalah kesenjangan kemampuan karyawan dalam perusahaan. Solusi
paling efektif adalah dengan menerapkan learning culture di perusahaan yang
efektif, yaitu Integrated Business Learning.
Ada tiga alasan utama mengapa Integrated Business Learning
(IBL) adalah solusi terbaik dan efektif dalam rangka menerapkan learning
culture di perusahaan.
1. Tidak Terbatas Ruang dan Waktu
Tidak adanya waktu adalah alasan utama bagi perusahaan untuk
tidak menerapkan learning culture di perusahaan. Metode belajar tradisional
sudah tidak relevan untuk terus dipertahankan dewasa ini di dunia kerja.
Situasi di mana karyawan harus duduk di kelas selama berminggu-minggu dalam
sesi-sesi training sangat memberatkan. Terlebih mereka memiliki jobdesk yang
padat.
IBL memanfaatkan kemampuan teknologi pembelajaran secara
daring. Dengan pembelajaran daring, proses belajar dapat dilakukan secara
fleksibel. Sesi-sesi terjadwal sudah tidak diperlukan lagi, sebab karyawan bisa
belajar di saat mereka membutuhkannya.
2. Mendukung Alur Bisnis Tetap Berjalan
Kekhawatiran lainnya dari penerapan learning culture adalah terganggunya produktivitas karyawan. Perusahaan khawatir karyawan yang terlalu sibuk belajar menjadi kurang produktif sehingga alur bisnis terganggu. Di sinilah keuntungan dari sistem IBL yang menerapkan materi pelatihan yang ringkas namun praktis. Dengan demikian, karyawan dapat menerapkan materi yang mereka pelajari dengan cepat. Karyawan tetap produktif sembari terus belajar secara berkelanjutan.
3. Mempertahankan Pemahaman Karyawan
Kita semua pasti mengalami saat di mana kita belajar sesuatu yang baru, kemudian melupakan materi yang diajarkan tersebut. Hal ini disebut dengan The forgetting curve. Ketika seseorang belajar sesuatu, ia cenderung melupakan sebagian besar informasi begitu saja. Psikolog Hermann Ebbinghaus dari Jerman mengatakan bahwa hal ini bisa diatasi dengan pengulangan dari hal-hal yang ia pelajari dalam periode tertentu.
Dengan IBL, materi pelatihan bisa dilihat kapanpun dan di manapun. Karyawan dapat mempelajari kembali materi yang telah diberikan untuk semakin memperdalam dan mempraktikannya secara cepat. Dengan cara ini, karyawan dapat terus mempertahankan bahkan meningkatkan kemampuannya.
Menerapkan learning culture memberikan manfaat secara
langsung baik untuk perusahaan maupun untuk pribadi karyawan itu sendiri. Dari
riset Korn Ferry, didapatkan data yang menarik dari penerapan learning culture
yang efektif. Pertama, karyawan yang terus belajar dipromosikan dua kali lebih
cepat. Kedua, karyawan yang memiliki ketekunan belajar 18 kali diidentifikasi
sebagai pribadi yang berpotensi tinggi. Terakhir, perusahaan dengan tingkat
budaya belajar yang tinggi memproduksi margin profit 25% lebih tinggi dibanding
pesaingnya.
Oleh karena itu, menerapkan Integrated Business Learning
adalah solusi efektif bagi penerapan learning culture di perusahaan. Selain
meningkatkan kemampuan karyawan secara pribadi, hal ini memberikan keuntungan
bagi peningkatan produksi dalam perusahaan.
Sumber: blog.udemy.com/agile-learning-culture/
