Kita semua pasti telah mengenal IQ yang menjadi
suatu tolak ukur kecerdasan kognitif. Akan tetapi, selain kecerdasan kognitif,
dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam lingkungan korporasi aspek penting
lainnya adalah kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional dapat dijelaskan
sebagai serangkaian kemampuan dalam empat hal. Pertama, kemampuan menangkap
emosi diri sendiri maupun orang lain, kemudian kemampuan menggunakan emosi
untuk memfasilitasi pikiran, lalu
kemampuan memahami emosi, bahasa emosi, dan tanda-tanda yang diberikan
oleh emosi, dan yang terakhir adalah kemampuan mengelola emosi untuk mencapai
suatu tujuan.
Salah satu penelitian yang menarik adalah
mencari kaitan antara kecerdasasan emosional dengan performa kerja. Seberapa
jauh kemampuan seseorang dalam mengelola emosinya berkaitan dengan tingkat
performa dalam pekerjaannya? Di dalam buku Emotional Intelligence and Neuro-Linguistic
Programming, dua peneliti yaitu Mark L. Lengnick-Hall dan Christopher B.
Stone menjabarkan penelitian mereka mengenai keterkaitan antara dua hal tersebut.
Dari penelitian tersebut, mereka menemukan
bahwa terdapat keterkaitan yang cukup berpengaruh antara kecerdasan emosional
dengan performa kerja. Dalam hal ini, perlu diperhatikan bahwa kecerdasan emosional
menjadi validator dalam memprediksi performa kerja yang melampaui kecerdasan
kognitif dan faktor personal pribadi.
Kecerdasan emosional dapat berpengaruh terhadap
performa kerja secara signifikan apabila termediasi oleh beberapa kegiatan.
Sebagai contoh, ada yang merasa kecerdasan emosionalnya berpengaruh dalam suatu
kerja sama tim. Di sisi lain, ada juga yang merasa bahwa ketika ia dapat
mengelola burnout dalam pekerjaan, di situ ia merasa bahwa kecerdasan
emosional sangat berpengaruh.
Mengapa informasi ini penting? Di dalam
perusahaan, pihak-pihak yang menjadi pemegang keputusan harus mempertimbangkan
hal-hal yang berkaitan dengan SDM dengan matang. Pertimbangan kecerdasan
emosional harus dipahami terutama dalam perekrutan, pelatihan, dan aktivitas
lainnya. Banyak perusahaan yang tidak memperhatikan hal ini sehingga terjebak dan
berhenti pada blaming others.
Jadi, jangan meremehkan berbagai aktivitas
untuk mengelola kecerdasan emosional di dalam korporasi. Aktivitas sederhana
seperti menyapa satu sama lain, komunikasi dalam tim, pendampingan antar posisi,
dan lain sebagainya dapat membantu meningkatkan kualitas kerja. Anggota yang bahagia
adalah awal dari produktivitas yang tinggi. Sukses selalu untuk Anda!
