2a
Suksesi Bisnis Demi Sustainablity
“When making a succession plan for your organization, keep in mind that your own role will someday require backfilling. Maybe you’ll decide to take advantage of a new opportunity, or you’ll put in your time and retire from the workforce.
- Robert Half

Menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab tidak hanya mengenai bagaimana cara mengelola anggotanya saat sedang bekerja, namun juga bagaimana mengelola kader-kader yang mumpuni agar dapat menjaga kestabilan tugas-tugas atau pekerjaan. Suksesi yang baik adalah sebuah rangkaian proses, bukan hanya menarik tenaga baru yang mumpuni. Memastikan bahwa terdapat kader yang mumpuni untuk menjadi backup atau bahkan menggantikan suatu posisi adalah salah satu hal yang mempengaruhi bagaimana suatu bisnis terus berkelanjutan.

Dalam buku Responsible Leadership in Corporate Governance, terdapat dua jalan mempersiapkan kader. Artikel ini akan membahas jalan pertama, yang disebut sebagai “Jalan Psikologis”.

Jalan Psikologis

Bagian ini mengandung pemahaman atas tingkah laku manusia dan proses mental yang dipengaruhi oleh psikis, kondisi mental, dan lingkungan seseorang. Jalan ini meneliti tiga proses yang dapat memberikan manfaat positif bagi organisasi. Ketiga proses ini adalah kepercayaan (trust), kepemilikan psikologis (psychological ownership), dan komitmen. Dengan membangun ketiga proses ini dalam tubuh perusahaan, khususnya kader-kader potensial, maka suksesi kepemimpinan dapat berjalan dengan baik.

1.       Trust

Di dalam suatu perusahaan telah banyak tertulis mengenai prosedur, SOP, aturan-aturan, bagan organisasi yang telah fiks dan menjadi pegangan selama bertahun-tahun. Akan tetapi, kunci utama dalam proses pemahaman semua itu adalah rasa percaya. Dalam kepemimpinan, kepercayaan adalah hal penting untuk disebut sebagai pribadi yang bertanggung jawab. Suksesi kepemimpinan bisnis harus memiliki rasa saling percaya antar satu sama lain. Ketika suatu keputusan dibuat, maka semua harus mendukung, menghormati, dan konsisten terhadap putusan tersebut.

2.       Psychological Ownership

Kepemilikan psikologis ini bisa disebut sebagai sense of belonging. Artinya, walaupun bukan pemilik dari sesuatu secara faktual, namun ia tetap merasa bahwa hal tersebut adalah bagian dari kehidupannya, sehingga akan merawat atau mengurusnya dengan baik. Contohnya seorang karyawan diberikan tempat kerja, fasilitas seperti komputer, kendaraan, dan lain sebagainya. Secara faktual semua itu bukan miliknya, namun karena rasa memiliki yang ia punya, ia tetap merawat, menjaga, dan menggunakan semua fasilitas itu dengan semestinya.

3.       Komitmen

Berbeda dengan kepemilikan psikologis yang berkutat pada ‘milikku atau milik kita bersama’, komitmen lebih tertuju pada keanggotaan. Rasa komit adalah suatu keinginan dalam diri untuk tetap berafiliasi dengan organisasi dan berkontribusi pada pencapaian tujuan bersama. Kepemimpinan yang mengembangkan otonomi, partisipasi, dan pengembangan keterampilan pribadi anggotanya menghasilkan manfaat positif pada perusahaan. Hasilnya adalah terciptanya kader-kader yang berkomitmen tinggi pada tugas dan perannya di perusahaan.