Menjadi
seorang pemimpin yang bertanggung jawab tidak hanya mengenai bagaimana cara
mengelola anggotanya saat sedang bekerja, namun juga bagaimana mengelola
kader-kader yang mumpuni agar dapat menjaga kestabilan tugas-tugas atau
pekerjaan. Suksesi yang baik adalah sebuah rangkaian proses, bukan hanya
menarik tenaga baru yang mumpuni. Memastikan bahwa terdapat kader yang mumpuni
untuk menjadi backup atau bahkan menggantikan suatu posisi adalah salah satu
hal yang mempengaruhi bagaimana suatu bisnis terus berkelanjutan.
Dalam buku Responsible Leadership in Corporate Governance, terdapat dua jalan mempersiapkan kader. Artikel ini akan membahas jalan pertama, yang disebut sebagai “Jalan Psikologis”.
Jalan
Psikologis
Bagian ini mengandung pemahaman atas tingkah laku manusia dan proses mental yang dipengaruhi oleh psikis, kondisi mental, dan lingkungan seseorang. Jalan ini meneliti tiga proses yang dapat memberikan manfaat positif bagi organisasi. Ketiga proses ini adalah kepercayaan (trust), kepemilikan psikologis (psychological ownership), dan komitmen. Dengan membangun ketiga proses ini dalam tubuh perusahaan, khususnya kader-kader potensial, maka suksesi kepemimpinan dapat berjalan dengan baik.
1. Trust
Di dalam suatu perusahaan telah banyak tertulis
mengenai prosedur, SOP, aturan-aturan, bagan organisasi yang telah fiks dan
menjadi pegangan selama bertahun-tahun. Akan tetapi, kunci utama dalam proses
pemahaman semua itu adalah rasa percaya. Dalam kepemimpinan, kepercayaan adalah
hal penting untuk disebut sebagai pribadi yang bertanggung jawab. Suksesi kepemimpinan
bisnis harus memiliki rasa saling percaya antar satu sama lain. Ketika suatu
keputusan dibuat, maka semua harus mendukung, menghormati, dan konsisten
terhadap putusan tersebut.
2. Psychological Ownership
Kepemilikan psikologis ini bisa disebut sebagai
sense of belonging. Artinya, walaupun bukan pemilik dari sesuatu secara faktual,
namun ia tetap merasa bahwa hal tersebut adalah bagian dari kehidupannya,
sehingga akan merawat atau mengurusnya dengan baik. Contohnya seorang karyawan
diberikan tempat kerja, fasilitas seperti komputer, kendaraan, dan lain
sebagainya. Secara faktual semua itu bukan miliknya, namun karena rasa memiliki
yang ia punya, ia tetap merawat, menjaga, dan menggunakan semua fasilitas itu dengan
semestinya.
3. Komitmen
Berbeda dengan kepemilikan psikologis yang berkutat
pada ‘milikku atau milik kita bersama’, komitmen lebih tertuju pada
keanggotaan. Rasa komit adalah suatu keinginan dalam diri untuk tetap berafiliasi
dengan organisasi dan berkontribusi pada pencapaian tujuan bersama. Kepemimpinan
yang mengembangkan otonomi, partisipasi, dan pengembangan keterampilan pribadi
anggotanya menghasilkan manfaat positif pada perusahaan. Hasilnya adalah
terciptanya kader-kader yang berkomitmen tinggi pada tugas dan perannya di
perusahaan.
