2a
Tujuh Fakta Menarik Learning Culture


1. Apa itu Learning Culture?

Learning Culture (LC) adalah sistem berkelanjutan yang memfasilitasi pengembangan SDM di perusahaan. LC dibuat agar kebutuhan perusahaan untuk keterampilan tertentu dapat terpenuhi. Hal ini lebih efisien sebab merekrut tenaga baru menghabiskan biaya 6 kali lebih tinggi dibanding mengembangkan karyawan yang sudah ada. Ingatlah selalu bahwa investasi paling mendasar dan paling penting dalam dunia bisnis adalah bidang edukasi/keterampilan.

 

2. Apa manfaat learning culture dalam sebuah perusahaan?

- Belajar tidak terbatasi oleh waktu. Karyawan bisa mengembangkan diri kapanpun dan dari manapun. 'Tidak ada waktu' menjadi alasan paling banyak yang membuat perusahaan tidak menjalankan LC di tempatnya.

- Alur produksi tetap berjalan. Materi pembelajaran sangat ringkas dan dapat diterapkan secara langsung, sehingga produksi tidak terhambat. Di sisi lain, justru produktivitas bisa meningkat sebab karyawan memiliki keterampilan baru yang membuat kualitas kerja menjadi tinggi.

- Pemahaman karyawan terus terjaga. Perusahaan tidak perlu khawatir karyawan tidak dapat memahami materi dalam sekali seminar. Materi yang diberikan dapat dibuka secara berulang-ulang, sehingga karyawan bisa memahami pembelajaran.

 

3. Perusahaan apa saja yang membutuhkan learning culture?

a. Perusahaan berskala besar: Perusahaan yang memiliki cabang di berbagai kota bahkan provinsi membutuhkan jaminan bahwa kualitas di pusat sama dengan kualitas di cabang terjauh.

b. Memiliki karyawan yang harus punya kompetensi khusus. Kompetensi karyawan juga harus merata di setiap cabang yang juga sesuai dengan identitas perusahaan. Kualitas pelayanan dari SDM yang merata akan menaikan tingkat kepercayaan pelanggan di manapun mereka berada.

 

4. Apa tanda/karateristik perusahaan yang sudah menjalankan learning culture dengan efektif?

- Memiliki karyawan yang berani kritis. Karyawan tidak takut mengutarakan pendapatnya, sebab ia merasa yakin dan memiliki argumen yang kuat untuk mendukung pendapatnya.

- Tidak merasa anti memberi atau menerima feedback. Baik pimpinan maupun karyawan dengan sukarela saling memberi feedback. Walaupun tingkat jabatan berbeda, dengan feedback tiap orang bisa saling memberikan apresiasi dan koreksi.

- Inovasi dan adaptasi terhadap perkembangan zaman. LC membuat kreativitas para karyawan difasilitasi. Pendapat dan feedback memberikan perspektif yang bisa berbeda dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru untuk berkembang.

- Membuat seminar/pelatihan secara rutin. Perusahaan secara aktif dan berkala memfasilitasi sarana untuk mengembangkan diri. Salah satu bentuk sarana edukasi yang cocok adalah dalam format seminar atau pelatihan. 

 

5. Bagaimana cara atau tahapan membangun LC di perusahaan?

- Leadership

Pimpinan perusahaan harus menetapkan budaya dalam perusahaan sehingga tindakan, prioritas, dan tujuan perusahaan selaras dengan learning culture.

- Mentoring

Program mentoring harus berjalan dengan tepat, yaitu mentoring yang saling mengubungkan pelatih dengan karyawan. Di dalam mentoring, harus ada nilai penghargaan terhadap pertukaran pengetahuan.

- Kesempatan belajar

Pastikan tema pembelajaran tepat sasaran, yang sesuai dengan kebutuhan karyawan. Kemudian, pastikan karyawan didukung untuk menerapkan keterampilan yang mereka pelajari di tempat kerja.

 

6. Siapa dan departemen apa yang harus terlibat dalam membangun LC?

- Divisi HR/LnD bertanggung jawab dalam pengembangan SDM di perusahaan. Dengan demikian, LC sangat cocok untuk dipahami dan dikembangkan oleh divisi ini.

- CEO sebagai pemegang posisi tertinggi di perusahaan juga memiliki peran penting. Ia adalah orang yang pertama harus menunjukkan manfaat LC dengan teladan.

 

7. Berikan contoh-contoh perusahaan yang sukses membangun LC dan benefit bagi bisnisnya

> Google dengan '20% Time'. Setiap karyawan mendedikasikan 20% jam kerja sehari untuk mengerjakan proyek/keterampilan yang berguna untuk perusahaan. Google menjadi perusahaan yang penuh inovasi dengan cara ini. Program seperti AdSense, Google News lahir dari budaya '20% Time'.

> Microsoft. Perusahaan teknologi ini mengembangkan kemampuan karyawannya, membuat ruangan khusus untuk belajar, dan selalu menggunakan data dan teknologi terbaru untuk membangun ide. CEO Satya Nadella membangun pola pikir di antara karyawan Microsoft bahwa saya harus menjadi sumber pengetahuan utama yang bisa bermanfaat bagi orang lain di perusahaan.

 

Sumber: www.zavvy.io/blog/learning-culture-examples