2a
Tujuh Faktor Penghambat Learning Culture

Perusahaan yang terus bertahan hingga puluhan tahun tidaklah banyak. Sebuah survei oleh Royal Dutch/Shell pada tahun 1983 menemukan 1/3 perusahaan yang masuk dalam Fortune 500 pada tahun 1970 sudah lenyap. Hal tersebut juga berlaku saat ini. Kita bisa mengingat beberapa merk besar 10 tahun lalu sudah tidak digdaya lagi.

Banyak yang mengatakan hal tersebut memang wajar dalam dunia bisnis. Hukum Rimba atau seleksi alam bisa berdampak pada siapa saja. Akan tetapi, apabila kita pikirkan, bisa jadi perusahaan-perusahaan tersebut memiliki kesamaan faktor yang membuat mereka tidak mampu beradaptasi dan berinovasi. Bisa juga terjadi bahwa faktor tersebut tanpa Anda sadari juga ada di dalam perusahaan Anda. Peter M. Senge mengelompokkan 7 faktor yang menghambat perkembangan perusahaan.

 

1. "Aku adalah Jabatanku"

Sudah menjadi hal umum ketika kita ditanya tentang pekerjaan kita, kita akan menjawab dengan menyebutkan posisi atau jabatan kita. Hal ini tanpa sadar membuat kita hanya berfokus pada satu sisi dari diri kita. Kita melupakan diri kita sebagai makhluk sosial yang juga berinteraksi dengan orang lain. Fokus tersebut membuat kita melupakan tujuan yang lebih besar dan mulia dari posisi tersebut. Oleh karena itu, Anda bisa mengubah pemahaman ini.

Ketika ditanya hal seperti tadi, kita bisa menjawab "Saya melakukan ____ agar orang lain ____." Contoh: Saya adalah seorang trainer Public Speaker yang membantu orang lain lebih percaya diri berbicara di depan umum. Anda bisa menemukan tujuan dari posisi atau jabatan Anda, dan itulah yang menjadi identitas Anda.

 

2. "Orang Lain adalah Musuh"

Pernahkan Anda merasakan ketika sesuatu yang salah terjadi pada diri Anda, Anda melihat orang lain sebagai penyebabnya? Itulah yang dimaksud dengan faktor kedua ini. Kita biasa menyebutnya sebagai cuci tangan dari masalah, atau saling menyalahkan.

Sebenarnya, faktor ini adalah akibat dari faktor pertama. Ketika kita hanya fokus pada diri kita dan jabatan kita, kita lupa bawah tindakan kita juga memiliki pengaruh pada orang lain. Ironisnya, ketika kita hanya fokus pada diri sendiri, kita menjadi tidak mampu melihat permasalahan dalam diri sendiri dan menaruhnya pada hal-hal di luar diri kita.

 

3. Ilusi "Serahkan pada Pemimpin"

Bagi Anda yang sering berada di posisi pemimpin, kemungkinan pernah mengalami situasi sulit di mana Anda yang harus mengambil tindakan. Hal ini bisa terjadi atas inisiatif Anda sendiri, atau karena orang lain tidak mau bergerak di situasi tersebut. Faktor ini juga masih berkaitan dengan faktor sebelumnya. Ketika faktor luar dianggap sebagai sumber permasalahan, kita langsung reaktif terhadapnya.

Pemimpin seperti manajer langsung merasa sebagai sosok yang bisa mengatasi masalah, anggota lain merasa seakan tidak berdaya karena masalahnya sudah terlanjur dianggap besar. Ilusi ini sangat berbahaya karena menganggap solusi hanya berada di satu orang. Yang menjadi ideal adalah menghadapi permasalahan, dan berhenti mengandaikan orang lain untuk mengatasinya.

 

4. Hanya Berfokus pada Peristiwa

Dalam perusahaan, tanpa sadar kita hanya berfokus pada peristiwa yang sifatnya jangka pendek. Terlebih pada dewasa ini, kita disuguhkan pada hal-hal yang trending. Hal ini membuat kita hanya berfokus pada peristiwa yang sifatnya jangka pendek, bukan pada proses yang terjadi secara perlahan. Padahal, saat ini hal-hal yang menjadi ancaman bagi kehidupan kita adalah peristiwa jangka panjang seperti masalah iklim, budaya korupsi, dan lain-lain.

Kita juga harus waspada dengan hal-hal yang terjadi di perusahaan kita. Ketika kita hanya fokus pada peristiwa jangka pendek, kita hanya akan bisa menemukan peristiwa sebelum dan belajar untuk mengatasinya. Namun, kita tidak akan mampu membuat inovasi apapun.

 

5. Analogi Katak dalam Panci

Proses yang perlahan lebih berbahaya daripada suatu kejadian yang terjadi secara tiba-tiba. Kita tentu tahu sebuah kisah tentang katak yang dilempar ke dalam panci berisi air panas. Katak tersebut akan langsung berusaha sekuat tenaga menyelamatkan diri. Sebaliknya, katak yang diletakkan di sebuah panci yang direbus secara perlahan tidak menunjukkan perlawanan apapun, hingga tanpa sadar mati terebus.

Gambaran tersebut bisa terjadi pada setiap dari diri kita, terutama pada perusahaan. Suatu kejadian yang kita anggap enteng atau sepele, jika dibiarkan dan bahkan membuat kita nyaman-nyaman saja, akan membuat perusahaan jatuh. Oleh karena itu, belajar untuk melihat peristiwa yang terjadi secara perlahan sangat dibutuhkan. Kita memerlukan waktu untuk berhenti sejenak dari alur kerja yang cepat, agar bisa menemukan peristiwa kecil, perlahan, namun bisa membahayakan.

 

6. Bergantung pada "Pengalaman Guru Terbaik"

Barangkali banyak di antara kita yang sudah merasakan bahwa pelajaran terbaik adalah lewat pengalaman. Akan tetapi, hal ini juga memiliki resiko apabila kita terus berpegang pada prinsip ini. Ada resiko ketika suatu konsekuensi dari suatu peristiwa langsung membawa kita pada kejatuhan. Di sinilah kita harus berhati-hati ketika belajar dari pengalaman. Jangan sampai kita melupakan bahwa yang terpenting adalah mempelajari akibat dari suatu peristiwa, lalu membuat aksi yang baru dan berbeda.

 

7. Kekompakan Palsu

Salah satu e-commerce terkenal yang tumbang di Indonesia adalah JD-ID. Di Tiongkok mereka adalah toko online barang-barang elektronik nomor 1 dan terpercaya. Di Indonesia, mereka tumbang padahal memiliki kualitas yang sama. Pihak JD pusat secara terbuka mengatakan bahwa ketidakjujuran dari pihak JD Indonesialah yang menyebabkannya. Mereka hanya memberitahukan hal-hal baik dan optimis tanpa menunjuk kekurangannya.

Hal ini juga dapat terjadi di dalam perusahaan kita. Suatu tim selalu menampakkan yang baik-baik di depan direksi. Dalam diskusi hanya menyatakan persetujuan dan tidak pernah mendebat suatu usulan. Sifat pura-pura ini dilakukan agar mereka tidak nampak buruk di depan orang lain.

 

Itulah tujuh faktor yang menghambat learning culture di perusahaan kita. Kita harus menemukan dan segera menghentikan kecenderungan-kecenderungan tersebut. Learning Culture membutuhkan lingkungan perusahaan yang tepat agar perusahaan tetap bertahan. Jangan sampai kita tidak sadar bahwa di perusahaan kita terdapat kebiasaan-kebiasaan yang ternyata menggerogoti perkembangan dari dalam.