1. Apa itu Learning Culture?
Learning Culture (LC) adalah sistem berkelanjutan yang
memfasilitasi pengembangan SDM di perusahaan. LC dibuat agar kebutuhan
perusahaan untuk keterampilan tertentu dapat terpenuhi. Hal ini lebih efisien
sebab merekrut tenaga baru menghabiskan biaya 6 kali lebih tinggi dibanding
mengembangkan karyawan yang sudah ada. Ingatlah selalu bahwa investasi paling
mendasar dan paling penting dalam dunia bisnis adalah bidang
edukasi/keterampilan.
2. Apa manfaat learning culture dalam sebuah perusahaan?
- Belajar tidak terbatasi oleh waktu. Karyawan bisa
mengembangkan diri kapanpun dan dari manapun. 'Tidak ada waktu' menjadi alasan
paling banyak yang membuat perusahaan tidak menjalankan LC di tempatnya.
- Alur produksi tetap berjalan. Materi pembelajaran sangat
ringkas dan dapat diterapkan secara langsung, sehingga produksi tidak
terhambat. Di sisi lain, justru produktivitas bisa meningkat sebab karyawan
memiliki keterampilan baru yang membuat kualitas kerja menjadi tinggi.
- Pemahaman karyawan terus terjaga. Perusahaan tidak perlu
khawatir karyawan tidak dapat memahami materi dalam sekali seminar. Materi yang
diberikan dapat dibuka secara berulang-ulang, sehingga karyawan bisa memahami
pembelajaran.
3. Perusahaan apa saja yang membutuhkan learning culture?
a. Perusahaan berskala besar: Perusahaan yang memiliki
cabang di berbagai kota bahkan provinsi membutuhkan jaminan bahwa kualitas di
pusat sama dengan kualitas di cabang terjauh.
b. Memiliki karyawan yang harus punya kompetensi khusus.
Kompetensi karyawan juga harus merata di setiap cabang yang juga sesuai dengan
identitas perusahaan. Kualitas pelayanan dari SDM yang merata akan menaikan
tingkat kepercayaan pelanggan di manapun mereka berada.
4. Apa tanda/karateristik perusahaan yang sudah menjalankan
learning culture dengan efektif?
- Memiliki karyawan yang berani kritis. Karyawan tidak takut
mengutarakan pendapatnya, sebab ia merasa yakin dan memiliki argumen yang kuat
untuk mendukung pendapatnya.
- Tidak merasa anti memberi atau menerima feedback. Baik
pimpinan maupun karyawan dengan sukarela saling memberi feedback. Walaupun
tingkat jabatan berbeda, dengan feedback tiap orang bisa saling memberikan
apresiasi dan koreksi.
- Inovasi dan adaptasi terhadap perkembangan zaman. LC
membuat kreativitas para karyawan difasilitasi. Pendapat dan feedback
memberikan perspektif yang bisa berbeda dan membuka kemungkinan-kemungkinan
baru untuk berkembang.
- Membuat seminar/pelatihan secara rutin. Perusahaan secara
aktif dan berkala memfasilitasi sarana untuk mengembangkan diri. Salah satu
bentuk sarana edukasi yang cocok adalah dalam format seminar atau
pelatihan.
5. Bagaimana cara atau tahapan membangun LC di perusahaan?
- Leadership
Pimpinan perusahaan harus menetapkan budaya dalam perusahaan
sehingga tindakan, prioritas, dan tujuan perusahaan selaras dengan learning
culture.
- Mentoring
Program mentoring harus berjalan dengan tepat, yaitu
mentoring yang saling mengubungkan pelatih dengan karyawan. Di dalam mentoring,
harus ada nilai penghargaan terhadap pertukaran pengetahuan.
- Kesempatan belajar
Pastikan tema pembelajaran tepat sasaran, yang sesuai dengan
kebutuhan karyawan. Kemudian, pastikan karyawan didukung untuk menerapkan
keterampilan yang mereka pelajari di tempat kerja.
6. Siapa dan departemen apa yang harus terlibat dalam membangun
LC?
- Divisi HR/LnD bertanggung jawab dalam pengembangan SDM di
perusahaan. Dengan demikian, LC sangat cocok untuk dipahami dan dikembangkan
oleh divisi ini.
- CEO sebagai pemegang posisi tertinggi di perusahaan juga
memiliki peran penting. Ia adalah orang yang pertama harus menunjukkan manfaat
LC dengan teladan.
7. Berikan contoh-contoh perusahaan yang sukses membangun LC
dan benefit bagi bisnisnya
> Google dengan '20% Time'. Setiap karyawan mendedikasikan 20% jam kerja sehari untuk mengerjakan proyek/keterampilan yang berguna untuk perusahaan. Google menjadi perusahaan yang penuh inovasi dengan cara ini. Program seperti AdSense, Google News lahir dari budaya '20% Time'.
> Microsoft. Perusahaan teknologi ini mengembangkan
kemampuan karyawannya, membuat ruangan khusus untuk belajar, dan selalu
menggunakan data dan teknologi terbaru untuk membangun ide. CEO Satya Nadella
membangun pola pikir di antara karyawan Microsoft bahwa saya harus menjadi
sumber pengetahuan utama yang bisa bermanfaat bagi orang lain di perusahaan.
Sumber: www.zavvy.io/blog/learning-culture-examples
